Senin, 30 November 2009

HARI PANGAN NASIONAL


Meningkatkan Kedaulatan Pangan Nasional
Oleh: Ali Mahmudi *)

Setiap tanggal 17 Oktober di peringati sebagai Hari Pangan Sedunia. Berbincang-bincang seputar masalah pangan, mau tidak mau kita akan menilik kembali mengenai problem pangan yang sedang di hadapi oleh bangsa Indonesia. Pangan merupakan kebutuhan primer semua manusia yang harus di hormati dan di lindungi sebagai salah satu bagian dari Hak Asasi Manusia. Pemenuhan atas hak pangan menjadi hal yang strategis bagi semua bangsa di dunia pada umumnya, dan bangsa Indonesia pada khususnya.

Ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 33, ayat 1-4, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang berbunyi sebagai berikut: Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan; Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara, oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat; Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

Dengan ini sangat di butuhkan perlindungan negara terhadap produksi pangan bagi rakyat dan kedaulatan negara. Terhadap kebutuhan pangan nasional, negara memiliki kewajiban (State Obligation) untuk menghormati ( to respect), melindungi (to protect), dan memenuhi (to fulfill) hak atas pangan masyarakat, bukanya malah menjadikan pangan sebagai komoditas dagang. Dalam konteks penghormatan, pemenuhan, dan perlindungan hak asasi manusia berbeda dengan hak sipil-politik, yang di mana peran negara harus di kurangi, terhadap hak ekonomi, sosial, dan budaya, negara harus banyak turun tangan dalam menciptakan stabilitas ekonomi kerakyatan.

Penguasaan negara sebagaimana yang tercantum dalam pasal 33 UUD 1945, seperti yang di nyatakan oleh Mahkamah Konstitusi, dalam pertimbangan pengujian Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 terhadap Pasal 33 UUD 1945, menyatakan bahwa penguasaan negara dalam Pasal 33 UUD 1945 mengandung pengertian yang lebih tinggi daripada pemilikan dalam konsepsi hukum perdata. Konsepsi penguasaan negara merupakan konsepsi hukum publik yang berkaitan dengan kedaulatan publik.

Hak menguasai negara sebagaimana tersebut di atas, bukan dalam pengertian makna negara memiliki, tetapi berorientasi dalam pengertian yang menyatakan bahwa negara berkewajiban merumuskan kebijakan (beleid), melakukan pengaturan (regelendaad), melakukan pengurusan (bestuurdaad), melakukan pengelolaan (behersdaad), dan melakukan pengawasan (toezichtthoundendaad).

Banyaknya kasus seperti adanya beras-beras asing atau gula-gula rafinasi yang kian marak kita jumpai di jual bebas di pasar-pasar tradisional, atau makin banyak beredarnya daging sapi glonggongan di jual bebas di pasar tradsional, merupakan suatu pelanggaran hak atas pangan masyarakat. Ini akan mengundang banyak problem-problem baru seputar pangan di indonesia. Problem-problem itu terjadi di akibatkan karena semakin lemahnya regulasi pemerintah dalam menindak lanjuti sektor pangan negara di indonesia.

Lemahnya regulasi bisa kita lihat dari UU No.7 tahun 1996 tentang pangan, justru lebih mengatur bagaimana itu industri komersil dan perdagangan pangan dijalankan. Padahal, peran pemerintah sebagaimana yang telah tercantum dalam pasal 45 ayat (1) Undang-Undang No.7 Tahun 1996 tentang Pangan yang berbunyi: Pemerintah bersama masyarakat bertanggungjawab untuk mewujudkan ketahanan pangan. Pasal ini bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945. Seharusnya upaya pemenuhan hak atas pangan adalah tanggungjawab negara sebagai organisasi kekuasaan rakyat kepada setiap individu warga negara Indonesia.

Program Pemberdayaan Masyarakat Tani
Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan, yang perlu dilakukan minimal dalam jangka waktu tiga tahun. Yakni, peningkatan sektor pertanian yang terus tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman modern. Dengan adanya sektor pertanian itu, di harapkan mampu menopang tersedianya kebutuhan sektor pangan negara.

Sektor pertanian di masa mendatang masih memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi sektor pertanian, sangat besar terhadap penyediaan pangan nasional, penyediaan bahan baku industri, produk domestik bruto (PDB), devisa negara, penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan petani. Terkait dengan hal itu, pihak pemerintah harus mampu mengembangkan Program Pemberdayaan Masyarakat Tani (PPMT) yang dimaksudkan untuk meningkatkan status petani dari sekedar petani tradisional menjadi petani modern yang berwawasan agribisnis.
Melalui program PPMT itu diharapkan mampu merubah pola pikir, perilaku dan sikap para petani dari petani subsistem tradisional menjadi petani modern berwawasan agribisnis. Yang akan membuahkan hasil berupa munculnya wirausahawan yang handal di masyarakat pada umumnya, dan meningkatkan pendapatan masyarakat tani sebagai upaya mengentaskan kemiskinan di masyarakat pedesaan.
Hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan pemberdayaan bibit dan varietas yang unggul. Salah satu faktor yang bisa mempengaruhi hasil panen, adalah jenis bibit padi yang ditanam dan pupuk yang di gunakan harus tepat, serta cara bercocok tanam dan upaya melawan hama secara efektif. Setelah panen, di perlukan adanya mekanisme dan manajemen yang baik sehingga harga jualnya baik, namun tidak memberatkan masyarakat. Karena kedaulatan pangan menjadi hal mutlak bagi bangsa Indonesia serta bisa dicapai dengan mendorong peningkatan produksi pangan nasional yang didukung oleh sektor industri pertanian yang kuat.

Penulis: Pengamat dan Peneliti pada The Hasyim Asy’ari Institute Bantul, Yogyakarta.
*Di muat joglosemar (jumat,14/10/09)

ISLAM DAN NASIONALISME:


PEMIKIRAN DI ALAM MELAYU
Oleh Abi Muslih

Pengarah Arkib dan Perpustakaan Yusof Rawa
Perjuangan kemerdekaan sering kali dikaitkan dengan kesedaran nasionalisme –
satu pemikiran yang tidak pernah timbul di alam Melayu sebelum kejatuhan
Othmaniyah pada 1924. Memang diakui bahawa para ulamak, khususnya ulamak Pattani
banyak bercakap soal kedaulatan orang Jawi atau Melayu semenjak 1830-an, tetapi
agenda mereka bukan membina semangat kebangsaan Melayu atau nasionalisme Melayu,
tetapi mengembalikan kedaulatan umat Islam di Nusantara yang ketika itu diwakili
oleh orang Melayu. Melayu adalah Islam – itulah pemikiran yang telah lama
berakar umbi dalam kerangka pemikiran orang Melayu sendiri. Atas asas ini para
ulamak membangkitkan soal hak dan ketuanan Melayu dalam menghalau penjajah.
Tetapi tidak bermakna sama sekali bahawa para ulamak mahukan orang Melayu
menjadi satu bangsa yang tersendiri dan kebanggaan terhadap kebangsaannya. Ini
ternyata apabila para ulamak mahukan orang-orang Melayu yang merdeka menjadi
sebahagian daripada rakyat atau warga Othmaniyah yang diikat oleh sempadan
aqidah – bukan sempadan negara-bangsa (nation-state).
Jika diteliti karya-karya ulamak tentang kehidupan bernegara, mereka
membincangkan tentang tanggungjawab para pemerintah dalam karya-karya besar
seperti Bustanus Salatin atau Tajus Salatin untuk menunjukkan bagaimana ketuanan
Melayu harus tunduk kepada atauran yang dibuat oleh Khaliknya. Cuma, yang
berbeza, karya-karya zaman Acheh dan Johor-Riau pada abad ke-17 memberikan
penekanan kepada pertanggungjawaban pemerintah dan tidak menyentuh langsung
tentang kewajipan menegakkan negara Islam. Ya! Sudah pasti ketika itu para
ulamak mempunyai kefahaman bahawa sama ada kerajaan-kerajaan Melayu di Acheh
atau Johor-Riau dan lain-lain semuanya adalah kerajaan Islam yang telah tunduk
kepada hukum Allah, setidak-tidaknya para ulamak menerima kedudukan Othmaniyah
di Istanbul atau Mughal di Delhi sebagai Khilafah Islam yang kerajaan-kerajaan
Melayu bernaung di bawahnya. Maka ungkapan-ungkapan akademik mereka tentang soal
kenegaraan memenuhi keperluan zaman Islam memerintah.
Memasuki abad ke-18 dan 19, generasi ulamak yang diketuai oleh Sheikh Daud
al-Fathani dan Sheikh Abdul Samad al-Falembani telah melihat bagaimana satu demi
satu bumi Islam jatuh ke tangan penjajah kuffar dan mereka cuba memberikan
tanggapan baru bahawa umat Islam wajib berjihad untuk membebaskan negara ini
daripada pengaruh kuffar. Sheikh Abdul Samad al-Falembani pada 1772 misalnya
telah mengirimkan surat kepada Hamengkubuwono I Mataram dan Susuhanan Prabu Jaka
mengajak mereka mengulangi jihad para pemimpin terdahulu untuk menghalau Belanda
dari Pulau Jawa. Beliau juga telah menghasilkan dua buah karya jihad iaitu
“Nasihatul Muslimin wa Tazkiratul Mukminina fi Fadhail al-Jihadi wa Karaamat
al-Mujtahidina fi Sabilillah” (1772) dan “Mulhiqun fi Bayani Fawaidin Nafi’ah fi
Jihadi fi Sabilillah” untuk meransang kesedaran jihad ke atas penjajah. Tidak
cukup dengan itu, Sheikh Abdul Samad al-Falembani turut menyertai jihad ke atas
di Kedah pada 1830-an yang berakhir dengan kesyahidan beliau.
Sheikh Daud al-Fathani, ulamak Melayu yang terkenal di Mekah telah menghasil
beberapa karya yang cuba membentuk pemikiran umat Islam supaya bangkit berjihad
ke atas penjajah kuffar. Tiga karyanya iaitu “Jum’ul Fawaid” (1824) dan
“Tuhfatul Gharibin”, diikuti oleh kitab “Munyat Musalli” (1827) telah
membincangkan tentang kewajipan berjihad ke atas penjajah. Kitab Munyat Musalli,
sebuah kitab fiqh tentang sembahyang dijadikan saluran untuk menyampaikan
pemikiran tentang jihad kepada orang-orang Melayu. Kitab himpunan fatwa Sheikh
Daud al-Fathani, “Furu’ul Masail” (1838) telah menyatakan kewajipan berjihad ke
atas penjajah untuk memerdekakan tanah air. Inilah satu gambaran yang dapat kita
lihat bagaimana para ulamak berusaha untuk membentuk pemikiran orang-orang
Melayu Islam supaya bangkit menentang penjajah melalui tulisan-tulisan mereka.
Seperti juga Sheikh Abdul Samad al-Falembani, Sheikh Daud al-Fathani turut
‘turun’ ke Tanah Melayu untuk menyertai jihad ke atas Siam pada 1830-an. Jihad
besar-besaran ini dipimpin oleh Sheikh Wan Mustafa al-Fathani (Tok Bendang Daya
Tua) dan melibatkan hampir seluruh ulamak Pattani, Kedah, Kelantan dan
Terengganu sama ada secara langsung atau tidak langsung. Ini bermakna kerangka
pemikiran anti panjajah yang dibina oleh ulamak mendapat tempat di hati umat
Islam, dan yang lebih penting ulamak sendiri turun ke padang untuk bersama-sama
dalam medan jihad, bukan sekadar di mata pena sahaja!
Dalam tempoh antara awa 1900 hingga zaman Jepun, orang-orang Melayu walaupun
dikatakan telah mulai bangkit, tetapi pemikiran mereka terhadap kemerdekaan,
khususnya yang berteraskan Islam masih kabur, khususnya yang berpusat di
Singapura. Ketika ulamak di Pattani, Kelantan dan Kedah sudah agak ke hadapan
dalam soal merdeka, orang Melayu di Negeri-negeri Melayu Bersekutu masih leka
dengan pendekatan berlembut Inggeris. Kemunculan al-Imam pada 1906 telah
memberikan suntikan baru kepada mereka tentang memahami makna kemerdekaan dan
kebebasan berfikir. Al-Imam misalnya telah menolak pemikiran yang
menyalahgunakan konsep ‘Qadak dan Qadar’ yang membiarkan diri mereka ditentukan
oleh takdir secara pasif dan tidak mahu berusaha . Mereka juga menolak pemikiran
yang jumud, tidak mahu berubah dan membiarkan diri mereka dalam kemunduran
begitu lama. Pemikiran yang merangsang minda orang Melayu ini berkembang melalui
pelbagai majalah yang diterbitkan oleh para ulamak dalam era ini seperti
Neracha, al-Ikhwan, Saudara, Pengasuh dan lain-lain.
Pemikiran tentang Islam dan nasionalisme dalam konteks perjuangan kemerdekaan
hanya dapat dilihat secara tersusun selepas Perang Dunia Kedua. Terdapat dua
aliran nasionalis Islam yang dapat kita lihat dalam memperjuangkan kemerdekaan,
pertama: aliran yang meletakkan kewajipan menegakkan negara yang berasaskan
hukum Allah dalam mengisi kemerdekaan yang dipelopori oleh Maulana Abdullah Nuh,
dan kedua: aliran yang mengangkat ketuanan Melayu sebagai asas negara Islam yang
merdeka dokongan Dr Burhanuddin al-Helmy. Tetapi kedua-dua pemikiran mempunyai
asas yang serupa iaitu Tanah melayu mesti dimerdekakan dan Islam mesti
ditegakkan di atas runtuhan kuasa penjajah. Maulana Abdullah Nuh, seorang ulamak
lulusan India telah bercakap soal politik kenegaraan atau dalam istilahnya
“siasat madinah” semenjak 1939 dan memperkenalkan subjek ‘siyasah syar’iyah’ di
pondok bagi membentuk kesedaran politik Islam di kalangan umat Islam. Selain
aktif dalam kegiatan politik berpersatuan dan kepartian, Maulana Abdullah Nuh
aktif berdakwah di Pasir Mas, Machang, Pasir Puteh dan Kota Bharu di Kelantan,
iaitu empat tempat yang paling awal menerima perjuangan MATA, Hizbul Muslimin
dan PAS di Kelantan.
Maulana Abdullah mendukung pendirian bahawa kerajaan di muka hanya milik orang
Islam dan “sekali-kali tidak dipindahkan kepada yang lain daripadanya” , tetapi
sekarang ini (1946) “telah terlu[n]cu[p] daripada tangan kaum Muslimin semua
jenis Arab dan Ajam” . Maulana Abdullah menolak kemerdekaan atau pembinaan
negara berasaskan bangsa yang menolak Islam seperti yang dilakukan oleh Kamal
Attarturk di Turki. Kata beliau, “Ya! Turki berkerajaan sendiri tetapi hendaklah
sama-sama kita faham kerajaan nampak yang ada itu kerajaan Islamkah atau
kerajaan kaum bangsanya. Setahu dunia kerajaan Turki itu ialah kerajaan kaum
bangsa dan nusa”. Tetapi disebalik sikap sinis beliau terhadap kerajaan
kebangsaan yang tidak menjadi Islam sebagai asas negara seperti Turki, Maulana
Abdullah Nuh mempersoalkan mengapa bangsa Melayu tidak memperjuangkan
kemerdekaan bangsanya walhal orang Melayu mempunyai jumlah yang ramai. Kata
beliau,
“Maka kerajaan itu di lain-lain bangsa lagi besar hampir semua bangsa di dalam
dunia ini berkerajaan sendiri melainkan kaum-kaum bangsa Melayu sahaja yang
tidak berkerajaan sendiri padahal mereka lebih banyak bilangan daripada setengah
bangsa-bangsa yang berkuasa besar iaitu seratus million lebih. Turki 16 juta
boleh berkerajaan sendiri” .
Maulana Abdullah Nuh berpendirian bahawa kepelbagaian kerajaan di atas muka
dunia ini mesti menerima hukum al-Quran yang akan membentuk kerajaan yang satu
iaitu kerajaan Islam . Pemikiran Maulana Abdullah Nuh tentang keperluan bangsa
Melayu untuk merdeka dan memiliki kerajaan Islam sendiri selepas kejatuhan
khalifah mempunyai persamaan dengan pemikiran Dr Burhanuddin al-Helmy, seorang
profesor homeopathy lulusan PhD dalam bidang falsafah Islam dari Aligarh Muslim
University, India. Dr Burhanuddin juga menolak pemikiran nasionalisme atau
assobiyah yang bersifat sempit dan fanatik, sebaliknya mahukan nasionalisme yang
berteraskan al-Quran dan Sunnah. “Dalam kita memperjuangkan kemerdekaan bangsa
kita, kebangsaan Melayu sekarang, pedoman kita al-Quran, jalan kita Sirat
al-Mustakim” . Beliau menekankan soal kemerdekaan yang dicapai akan dianggap
bermakna sekiranya bangsa Melayu dapat menegakkan Islam, ungkap beliau,
“Dalam perjuangan kita bagi mencapai kemerdekaan, kita telah dan terus menerus
memperjuangkan Melayu itu sebagai kebangsaan bagi negara Tanah Melayu ini dengan
bertapak di atas asas ideologi Islam yang maha suci” .
Seperti sikap Maulana Abdullah Nuh terhadap Turki, Dr Burhanuddin al-Helmy juga
mempunyai sikap yang hampir sama terhadap Umno yang dilihat tidak menegakkan
Islam kerana yang mempunyai ciri-ciri taghut. Bagi beliau, umat Islam mesti
berjuang untuk mengisi kemerdekaan dengan Islam. Katanya, “… kita tetap akan
tegas bahawa umat Islam adalah diizinkan Tuhan untuk mempertahankan agama, diri
dan masyarakat dari sebarang aliran taghut iaitu aliran yang cuba mengharamkan
apa yang dihalalkan oleh Allah, dan yang cuba hendak menghalalkan barang yang
haramkan oleh Allah” . Dalam memahami makna Islam dan kebangsaan, Dr Burhanuddin
mempunyai pendekatan yang sangat menarik. “Kita pandang dari segi falsafah dan
kita susunkan pemandangan yang dekat adalah begini:
(1) Iman (nyawa)
(2) Tubuh
(3) Bangsa
(4) Watan (tanah air)”
“Iman berdiri di atas tubuh. Tubuh berdiri di atas bangsa dan bangsa berdiri di
atas watan. Salah satu daripada yang empat ini tiada boleh bercerai tinggal
dalam binaannya tetapi watan jadi pokok. Ada watan ialah dengan kuat bangsa.
Kuat bangsa keluar dari tubuh diri yang sihat kuat dan perkasa seperti pekerja,
pahlawan, perajurit dan lain-lain. Maka dalam jiwa pekerja, pahlawan,
perajuritnya terletaknya iman” .
Secara ringkasnya, kita mendapati bahawa perubahan pemikiran para ulamak telah
berkembang daripada sekadar memperkatakan soal tugasan pemerintah ketika Islam
berkuasa, kepada seruan jihad ketika Islam sedang diancam. Selepas kejatuhan
Islam, para ulamak cuba membentuk satu kesedaran tentang kewajipan umat Islam
berjihad menegakkan Negara Islam. Persoalan bangsa hanya dijadikan wasilah untuk
membolehkan umat Islam menegakkan agamanya. Ulamak secara terang-terangan
menolak perjuangan bangsa yang sempit tanpa dilandaskan kepada ajaran agama,
sebaliknya perjuangan kemerdekaan dan pengisian kemerdekaan mesti bertitik tolak
daripada ketaqwaan kepada Allah SWT. Bahkan bagi para ulamak, jika umat Islam
mahu segala tuntutan agama Allah dapat dilaksanakan, mereka mesti berjuang
mencari kemerdekaan sebenar iaitu kemerdekaan yang membolehkan Islam ditegakkan.
Kata Dr Burhanuddin,
“… bagaimanakah kita akan mengembalikan agama kita, hingga agama dapat berjalan
menurut yang dikehendaki Allah, jika kita belum bebas merdeka dan berdaulat?
Tentu tidak boleh melainkan sudah bebas merdeka dan berdaulat” .

Minggu, 15 November 2009

CERPEN


Perempuan Kupu-kupu
Dian Hartati**

Aku adalah perempuan kupu-kupu. Setiap langkah yang tercipta selalu
menghadirkan kepak sayap. Ruang-ruang di rumahku adalah sebuah dimensi
yang menceritakan kisah-kisah menawan dan selalu menghadirkan gelak
tawa. Senda gurau perempuan lain, ibuku yang kupanggil dengan sebutan Mama..

Di leherku sebuah tato tergambar jelas. Tato kupu-kupu dengan sayap
mengepak. Tidak begitu lebar dan terdapat motif bintik-bintik berwarna
hitam. Jika kamu meraba lehermu dan menemukan tonjolan tulang leher,
maka di situlah gambar kupu-kupu tepat berada di leherku. Tato yang
manis dan aku sangat menyukainya. Serangga pengisap madu yang terletak
di leherku ini sering kali membuat rasa penasaran pada diriku sendiri
untuk selalu melihatnya. Namun aku hanya dapat melihat dengan bantuan
cermin atau kaca besar yang berada di kamarku. Mengintip bayangan mungil
yang muncul seketika.

Aku ingat peristiwa yang melatari bagaimana kupu-kupu itu berada di
leherku. Beberapa bulan yang lalu aku mendapati surat panjang di inbox
e-mailku. Seorang lelaki dewasa bercerita tentang harapan yang menurutku
aneh. Nama lelaki dewasa itu adalah Lepidoptera, nama yang unik bukan.
Lepi - begitu aku memanggilnya - memiliki keinginan ketika dia bangun
tidur, Lepi tidak ingin menemukan siapapun. Lepi ingin tidak ada seorang
pun yang mengenalnya. Setiap bangun tidur Lepi mengharapkan berada di
dunia lain, dunia yang berbeda dengan hari kemarin. Kamu tahu aku hanya
tersenyum membaca surat itu.

Maka keesokan harinya aku membalas surat Lepi. Aku katakan padanya bahwa
suata saat Lepi akan menemukan harapannya. Bangun tidur dan tak
menemukan apapun. Mencoba-coba mengingat hari kemarin tapi sekuat apapun
usaha Lepi dia takkan menemukan dirinya di hari kemarin. Saat Lepi
terbangun dari tidur lelapnya dia akan menemukan seorang perempuan
berambut pendek, bahkan sangat pendek untuk ukuran seorang perempuan.
Lepi mencoba mengingat-ingat, mengira-ngira siapa perempuan yang berani
menggangu tidurnya di pagi hangat. Usaha Lepi sia-sia karena dia tak
dapat mengingat. Lepi hanya menemukan tato kupu-kupu di jenjang leher
perempuan itu.

Begitu aku membalas surat panjang seorang lelaki dewasa bernama
Lepidoptera. Kamu tahu, setelah aku mengirimkan e-mail itu tiba-tiba
saja tato kupu-kupu menempel di leherku. Tentu saja aku takut karena
kalimat-kalimatku di surat itu menjadi kenyataan. Aku sangat tidak
nyaman dengan tato itu, ada sebuah ketakutan. Aku sangka itu adalah
kutukan karena aku membalas surat seseorang dengan imaji yang berlebih.
Sungguh aku khawatir dengan keadaan diriku. Di tubuhku, di leherku, di
kulitku ada sepetak gambar yang tidak pernah aku sangka-sangka. Tidak
pernah aku duga sebelumnya.

Beberapa kali Lepi mengirimi aku surat, tapi aku tak lagi
menghiraukannya. Aku takut kalimat-kalimat yang kubangun di surat
menjadi kenyataan seperti tato kupu-kupu yang kini mengepak di leherku.
Aku lupakan lelaki dewasa itu. Saat ini aku sudah terbiasa dengan tato
kupu-kupu yang menghias jenjang leher, terkadang aku berucap syukur
mungkin ini adalah anugerah. Seorang perempuan dengan tato kupu-kupu di
leher, begitu manis.

Seperti siang ini. Entah siang yang keberapa karena aku tak pernah
mengingatnya. Siang hari yang terik, sepulang kuliah aku mendatangi
sebuah mall di pusat kota. Sekadar membuang jenuh karena rutinitas
perkuliahan yang membosankan. Mengelilingi gedung berlantai lima dan
memasuki sebuah tempat yang hanya menjual pewangi ruangan. Aku memilah
beberapa pewangi yang berbeda-beda aromanya. Ada wangi buah, bunga,
sampai aroma kopi. Aku membeli beberapa untuk ruang-ruang yang ada di
rumahku. Aku suka sesuatu yang wangi. Menyenangi segala hal yang harum.
Selalu ada semangat yang terhirup dari wangi-wangian itu.

Tak lelah aku memasuki beberapa show room. Ada yang aneh. Beberapa
pengunjung mall memperhatikan aku. Adakah yang salah dengan penampilanku
atau keringat berlelehan di wajahku. Mungkin mereka melihat tato
kupu-kupu di leherku dan itu sesuatu yang aneh bagi mereka. Tapi kurasa
bukan itu. Tato bukanlah hal yang asing di kota ini. Banyak perempuan
yang melukiskan tato di tempat-tempat tertentu di bagian tubuhnya.
Kudengar bisik-bisik dari suara mereka. Apel. Wangi apel. Aroma apel.
Aku mempercepat langkahku karena tak biasa di tatap seperti itu oleh
banyak orang.

Berjalan menuruni setiap lantai dan bergegas pulang. Sepanjang koridor
aku hanya mendengar bisik suara orang-orang. Apel. Wangi Apel. Aroma
Apel. Aku ingat mungkin saja orang-orang itu menghirup pewangi ruangan
yang meruap dari kantong belanjaanku. Ya, pasti itu alasannya mengapa
mereka, orang-orang itu, membisikkan kata apel berulang-ulang. Kamu
tahu, sesuatu yang membuatku heran adalah aku tidak pernah membeli
pewangi ruangan beraroma apel. Akhirnya aku memeriksa apa saja yang
kubeli. Aroma sedap malam untuk ruang tidur, mawar untuk ruang tamu,
jeruk untuk ruang baca, aroma kopi untuk dapur, dan anggrek untuk kamar
mandi. Kupastikan tak ada pewangi ruangan yang beraroma apel.

Di lantai dasar aroma keju memenuhi ruangan. Sebuah toko roti sedang
mengadakan promosi besar-besaran. Kulihat seorang laki-laki memeragakan
cara membuat roti dengan tahapan-tahapan yang jelas. Aku melangkah
menuju pintu keluar. Orang-orang tetap memperhatikan aku dan berbisik.
Apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Apakah mereka tidak salah? Lantai ini
dipenuhi aroma keju dari toko roti yang luas itu, begitu semerbak. Tapi
mengapa orang-orang mengucapkan kata-kata apel. Siang yang aneh dan aku
tak mau terjebak dalam pendengaran yang dikacaukan oleh mereka,
orang-orang itu.

Sampai di luar mall aku langsung menyeberang. Sebuah jalan raya yang
padat menghadangku secara nyata. Menunggu. Mencoba mencari kesempatan
agar aku dapat leluasa berjalan sampai ke seberang sana. Berbagai
kendaraan menyeruak, saling merebut posisi untuk selalu menjadi yang
tercepat. Tak menghiraukan para pejalan yang akan menyeberang. Sebuah
zebra cross terhampar di hadapanku. Panas matahari dan waktu telah
memudarkan cat putih yang menjadi batas antara jalan raya dan garis
zebra cross. Aku masih bertahan menunggu berkurangnya debit kecepatan
berbagai kendaraan itu. Beberapa orang mulai bertumpuk, sama-sama hendak
menyeberang. Kemana polisi lalu lintas? Biasanya mereka ada di sekitar
sini untuk membantu menghalau kendaraan-kendaraan itu.

Angin berhembus. Bayang-bayang pohon bergerak searah angin yang datang.
Makin banyak orang yang hendak menyeberang tapi kesempatan belum ada.
Laju mobil-mobil itu begitu cepatnya. Sedikit saja salah mengambil
kesempatan pastilah badai klakson memenuhi ruas jalan yang hanya cukup
untuk tiga jalur mobil yang bergerak satu arah. Di sekelilingku
orang-orang sudah mulai tak sabar. Beberapa orang berbisik tak karuan.
Apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Aku menoleh ke arah mereka. Lagi-lagi yang
kudengar hanya apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Aku sudah tidak tahan. Maka
kulangkahkan saja kaki. Menyeberang tak memikirkan nyawa yang masih
betah di raga. Aku tak habis pikir mengapa orang-orang di sekelilingku
selalu mengucapkan kata-kata yang sama.

Di seberang jalan aku harus meneruskan langkah sampai perempatan. Tak
jauh hanya lima menit saja aku sudah tiba di tiang lampu merah. Kulihat
di seberang sana orang-orang tengah menunggu lampu berwarna merah
menyala. Menunggu giliran mereka untuk menyeberang. Melihat mereka yang
tengah menunggu aku jadi ingat lintasan peristiwa yang terjadi setahun
lampau. Aku berada di seberang sana bersama seorang laki-laki. Menunggu
giliran untuk menyeberang. Syailendra nama laki-laki yang bersamaku
ketika itu. Lendra - begitu aku mengingat namanya sampai saat ini -
begitu erat memegang tanganku. Berkali-kali Lendra mengingatkan aku
bahwa dia takut menyeberang. Tak pernah berhasil menyeberangi jalan
seorang diri. Seorang laki-laki yang berbeda dengan lelaki lainnya.
Sepengetahuanku setiap laki-laki selalu ingin menjaga perempuan di
sampingnya saat menyeberang. Tapi Lendra berbeda, dia begitu ingin
dilindungi.

Aku selalu mengingatkan Lendra bahwa menyeberang adalah hal yang mudah.
Keberanian dapat diasah dengan keterbiasaan. Setiap akhir pekan ketika
menghabiskan waktu bersama, aku selalu mengajak Lendra berjalan.
Menjelajahi ruas-ruas jalan untuk diseberangi. Sebuah agenda yang
disepakati bersama. Sampai akhirnya Lendra dapat menyeberang sendiri.
Tanpa harus ada aku atau siapapun di sampingnya. Lendra jadi tahu
bagaimana bersiasat saat menyeberang jalan. Maka aku tak khawatir lagi
ketika harus membiarkannya sendirian di jalan raya.

Namun berita buruk kudapati ketika Lendra sedang bertugas di luar kota
saat mengadakan penelitian untuk studi kuliahnya. Di sore hari yang
tenang aku mendengar kabar Lendra tertabrak mobil saat menyeberang.
Betapa sedihnya mendengar kejadian tersebut. Hidup Lendra harus berakhir
di jalan raya. Kamu tahu, kepergian Lendra adalah kesalahanku. Aku tak
menemani saat Lendra menyeberang.

Apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Aku tiba-tiba saja tersadar dari
lamunanku. Orang-orang yang hendak menyeberang di seberang sana kini
telah ada di sekelilingku. Sama-sama menunggu angkutan kota yang akan
membawa kami ke arah utara. Apel. Wangi Apel. Aroma Apel. Bisik-bisik
itu terasa menggangu. Aku langsung naik mobil yang tiba-tiba saja muncul
di hadapanku. Aku tak melihat arah datangnya karena beberapa saat
pikiranku mundur ke masa lampau, setahun yang lalu.

Turun dari mobil aku harus berjalan sepuluh menit untuk sampai di rumah.
Sebuah pohon belimbing akan menyambutmu jika kamu hendak bertamu ke
rumahku. Pohon yang menjadi saksi aku tumbuh sebagai anak yang ceria.
Pohon yang aku tanam ketika berusia lima tahun. Ketika itu seorang nenek
memberikan bibit belimbing padaku. Aku menanam dan merawatnya sampai
saat ini di usiaku yang ke duapuluh tahun. Di samping pohon belimbing
bermekaran wijaya kusuma. Bunga yang jika sedang mekar selalu meruapkan
aroma yang khas.

Ketika kecil aku selalu mengintip mekarnya wijaya kusuma. Setahuku bunga
itu selalu mekar pada tengah malam. Sekitar pukul tujuh malam aku keluar
rumah, mencium dan menghirup wangi bunga yang bakal mekar malam itu.
Ketika kuncupnya masih mengatup aku selalu minta sesuatu. Pernah suatu
ketika aku mengucapkan keinginanku di hadapan wijaya kusuma: jadi anak
pintar. Masuk rumah dan mengintip dari balik jendela menantikan bunga
itu mekar. Menunggu sampai tengah malam dan akhirnya tertidur tanpa
melihat mekarnnya wijaya kusuma. Keesokkan harinya ketika berangkat
sekolah, bunga itu telah mekar. Menampakkan kecantikkannya sebagai bunga
para raja. Bunga yang dapat membangkitkan orang yang telah meninggal.
Bunga yang dikenal sebagai wijaya mala, diperbincangkan oleh beberapa
orang sebagai wijaya mulia.

Memasuki ruang tamu aku mendapati aroma apel yang kuat. Aku jadi ingat
bisik-bisik orang di mall tadi siang. Ternyata penciuman mereka tidak
salah. Aku mencium kedua lenganku, aroma apel muncul dari sana. Membaui
kedua kaki, lagi-lagi aroma apel terhirup. Tubuhku beraroma apel.
Mengapa keringatku beraroma apel? Aku tak percaya, mungkin penciumanku
yang salah. Aku harus segera mandi.

Masuk kamar mandi aku baru menyadari ternyata motif keramik yang
menempel di dinding kamar mandi adalah kupu-kupu biru dengan sayap yang
sedang mengepak. Memasuki ruang tidur ternyata lukisan yang menempel di
dinding adalah sekelompok kupu-kupu yang sedang menyedot madu di antara
rimbun bunga-bunga. Memasuki ruang baca setumpuk buku berkisah tentang
siklus hidup kupu-kupu. Kain pelengkap ibadahku bermotifkan kupu-kupu.
Botol minyak wangi milikku bergambar kupu-kupu. Kamu tahu, yang paling
mengherankan adalah ketika minggu ini aku mendapat kiriman buku berjudul
Kupu-kupu Bersayap Gelap*. Aku jadi bingung sejak kapan hari-hariku
dipenuhi kupu-kupu.

Malam hari aku hanya ditemani sebatang lilin. Aku begitu damai dengan
suasana kamar yang remang. Aroma apel memenuhi ruang tidurku. Karena
terlampau lelah aku melupakan semua pertanyaan yang tak dapat kujawab.
Apel. Wangi Apel. Aroma Apel.

Aku adalah perempuan kupu-kupu yang meruapkan aroma apel. Setiap langkah
yang tercipta selalu menghadirkan kepak sayap. Ruang-ruang di rumahku
adalah sebuah dimensi yang menceritakan kisah-kisah menawan dan selalu
menghadirkan gelak tawa. Senda gurau perempuan lain, ibuku yang
kupanggil dengan sebutan Mama..

Di tubuhku terdapat bercak ungu letaknya di telapak tangan. Aku tidak
tahu sejak kapan warna ungu itu menempel di tangan kananku. Aku
menyadarinya ketika aku telah dapat mengingat. Aku pernah bertanya pada
Mama, dia hanya tersenyum dan menjawab singkat: itu warisan dari
leluhurmu. Di hari lain Mama pernah mengatakan bahwa bercak ungu itu
akan hilang dengan sendirinya ketika aku telah menemukan seseorang yang
pantas menjadi pendamping. Maka kutunggu saja waktu di mana seseorang
datang dan akan menjadi pendampingku.

Kini ruang-ruang di rumahku dipenuhi berbagai aroma. Aroma sedap malam
untuk ruang tidur. Aroma mawar untuk ruang tamu. Aroma jeruk untuk ruang
baca. Aroma kopi untuk dapur. Aroma anggrek untuk kamar mandi. Tetapi
jika aku mendatangi ruang-ruang itu berbagai aroma menghilang begitu
saja tergantikan aroma apel yang meruap dari tubuhku. Kini aku terbiasa
dengan bisik-bisik yang selalu terucap dari orang-orang di dekatku.
Apel. Wangi Apel. Aroma Apel.

Malam ini aku mendapati situasi yang berbeda. Aku tak dapat tidur. Untuk
memejamkan mata saja terasa sulit. Berkali-kali aku membaca buku agar
kantuk datang namun tak berhasil. Terasa olehku lelah yang semakin
membebat. Ada apa gerangan? Malam telah larut. Aroma apel telah
menjelaga di setiap sudut kamar. Aku tak mengerti dengan kondisi tubuhku
saat ini. Terlintas bayang-bayang masa lalu, saat aku kehilangan
seseorang, ketika aku mendapatkan sesuatu. Apakah demam memerangkap
tubuhku. Kulihat bercak ungu di telapak tanganku menghilang sedikit demi
sedikit. Kamu tahu, mungkin ini adalah waktuku untuk menjalani fase
kehidupan selanjutnya. Bermetamorfosis.

SudutBumi, Oktober 2006
~untuk dua laki-laki yang memiliki satu kesamaan~

Keterangan:
* Kupu-kupu Bersayap Gelap adalah judul buku yang ditulis oleh Phutut EA
**)Sumber,http://sudutbumi.wordpress.com/

SENANDUNG SHALAWAT

Senandung Shalawat dan Puji-pujian
Karya KH. Zainal Arifin Thoha

(2) NUURUN FAUQO NUUR
Yaa Nabii Salaam ‘alaika # Ya Rasuul Salam ‘alaika
Ya Habiib Salam ‘alaika # Sholawaatullah ‘alaika

&

Anta syamsun anta badrun # anta nuurun fauqo nuuri
Anta iksiiru waghaalii # anta mishbaahush-shuduuri

Yaa habiibii yaa Muhammad # Yaa ‘aruusal-khoofiqoini
Yaa muayyad Yaa mumajjad # Yaa imaamal-qiblataini

Mar-roaa wajhaka yas’ad # Yaa karimal-waalidaini
Haudhukash-shoofil-mubarrod # Wirduna yauman-nusyuri


(3) PENGHULU MADINAH

Allaahumma sholli ‘alaa Muhamma # Yaa rabii sholli ‘alaika wa saliim
Allaahhumma sholli’alaa Muhamma # Yaa rabii sholli ‘alaihi wa saliim

&

Wahai kekasih penghulu madinah # diri ini bingung tak tentu arah
Wahai kekasih penghulu madinah # hanyalah engkau penuntun arah
Wahai kekasih penghulu madinah # Hati ini luka berdarah-darah
Wahai kekasih penghulu madinah # hanyalah engkau penyembuh resah

Wahai Kekasih Cahaya di hati # Akhlakmu agung nan indah sekali
Wahai Kekasih Cahaya di hati # Sapamu ramah terbang abadi
Wahai Kekasih Cahaya di hati # Temani kami jangan pernah pergi
Wahai Kekasih Cahaya di hati # Hanyalah engkau sahabat sejati


Ya Nabi Cahaya Ya Nabi Penerang # Ya Nabi penuntun Ya Nabi Penolong


Ya Nabi Cinta yang Nabi rindu # Kecup keningku peluklah aku
Ya Nabi Cinta Yaa Nabi rindu # genggamlah tanganku ajaklah aku dekaplah diriku bawalah aku

(4) THOLA’AL BADRU ‘ALAINA

Thala’al badru ‘alainaa # Min tsaniyyaatil-wadaa’i
Wajabasy-syukru ‘alainaa # Maada’aa lillaahi daa’i (2X)

&
Selamat Datang generasi islam # Selamat Datang Cahaya Alam
Mantapkan Hati Dengan Iman # Bersaudara kita dalam Islam
Langkahkan Kaki Jangan bimbang # Allahu Akbar Jayalah islam

Selamat Datang generasi Islam # Selamat Datang Cahaya Alam
Mari kita bergandeng tangan # Perbedaan bukanlah lawan
Kitab Alqur’an sebagai pedoman # Sunnah sang nabi sebagai teladan

Selamat datang generasi islam # Selamat Datang Cahaya Alam
Dengan Ilmu dan kesadaran # Dengan Do’a dan perjuangan
Negara dan bangsa membutuhkan # pengabdian penuh kejujuran

(5) YA ARHAMAR-ROHIMIIN

Ya Arhmar-rohimiin # Ya Arhnar-rohimiin
Ya Arhmar-rohimiin # farrij ‘alal-muslimin

&

Siapa orang yang sayang # di bumi ia sayang
Di langit kan disayang # Allah Maha penyayang Allah Maha penyayang

Sayang oh sungguh sayang # Sayang keterlaluan
Dunia jadi idaman # Harta jadi pujaan tahta jadi rebutan

Cinta telah kau buang # Benci engkau tanamkan
Sesama jadi lawan # Syetan menjadi teman nafsu kau perturutkan

Sadarlah sadar kawan # hidup bukan tujuan
Kematian kan datang # Taubat mohon ampun Allah Maha penyayang


(6) YAA ILAAHANAA

Yaa ilaahanaa idhfirlanaa dzunubanaa
Wa Sallimnaa fid-dunyanaa wa-ukhronaa

&

Duh gusti mugo kerso paring pangapuro
Doso kawulo ugi tiang sepoh sepoh kulo

Duh gusti mugi paring karaharjan lan mulyo
Wonten akhirat ugi donyo sak meniko

Poro sedulur Islam kabeh kang minulyo
Mangertenono wektu urup jo sio-sio

Ilmune dunyo ilmune donyo siro ajaro
Ilmu agomo ilmu agomo luwih prayogo

Sangune urip sangune urip golekono
Sangune mati sangune mati luweh utomo

Urip ing dunyo urip ing dunyo sewene piro
Manggon akhirot manggon akhirot ra bakal purno

(7) AHLI SUARGO

ilaahi lastu lil-firdausi ahlaa # Walaa aqwaa ‘alaa naril-jahiimi
Fahablii taubatan waghfir dzunuubii # Fainnaka ghaafirundz-dzanbil ‘adhiimi

Dzunuubii mitslu a’dadil-rimaali # Fahablii taubatan yaa dzal-jalali
Wa’umrii naaqishun fii kulli yaumin # Wadzanbii zaaidun kaifa-timali

&

Gusti Allah kulo sanes ahli suwargo
Nanging kulo mboten kiat sikso neroko
Mugi gusti kerso paring pangapuro
Namung gusti ingkang saget ngelebur dosa

Dosa kulo kados segaraning wedi
Mugi Gusti paring taubat kang sejati
Umur kulo saben dino tansah sudo
Dosa tambah kados pundi nggen kulo nyonggo

(8) Eling- eling



Allahumma shalli’alaa Sayyidinaa Muhammadin
Allahumma shalli’alaa Sayyidina Muhammadin

&

Eling-eling yo podho eling * Elingono amal lan dosa
Sak durunge siro diprikso * Luwih becik yo di siapno

Eling-eling kiamat sughro * poro ulomo akeh sing lungo
Poro manungso adoh agomo * Esok sore mikirne dunyo

Eling- eling tondo kang liyo * Koyo Dawuh Nabi marang kito
Mabuk-mabukan tur seneng zino * Anak wong tuwo royokan bondho

Eling-eling werno sing liyo * Wong ra duwe dadi wong agung
Wong wadon jumlahe malipat-lipat* wong lanang sithik akeh sing tamat

Eling-eling dulurku islam * podho islam ojo gothakan
Nggowo ayat kanggo dolanan * Kelakuane ra duwe Iman

Eling-eling tondo kang cetho * Duwite manak yen di utang
Watake srakah omah gedean * Ngumbar finah do kelewatan

Eling-eling kanggo kitho * Ayo sedulur enom lan tuwo
Ayo cepetan eling agomo * Mengko iing tembe ben ora soro

Side:B

(1) RINDU PERMATA KALBU

Yaa Nabi salaam ‘alaika*Yaa Rasuul salaam ‘alaika
Yaa habiib salaam ‘alaika*sholawatullah’alaika
Yaa habiib salaam’alaika*Sholawaatullah‘alaika

&

Ridu oh rindu hatiku rindu * Kepadamu oh permata kalbu
Sholawat dan salam untukmu * Dekaplah aku dalam hatimu
Keluarga dan keturunanmu * Para sahabat dan pewarismu

Rindu oh rindu hatiku rindu * Duhai jangan oh tinggalkan aku
Rengkuhlah aku dalam pelukmu * Dekaplah aku dalam hatimu
Wahai sang Nabi air mataku * Wahai sang Nabi denyut jantungku

Rindu oh rindu hatiku rindu * Cium tangisku di pusarmu
Wahai sang Nabi sungguh harapku * Terimalah cinta dari rinduku
Namaku slalu dalam doamu * Diri bersatu dalam doamu

(2) WERNO LIMO

Allahumma shalli wa-sallim ‘alaa * Sayyidina wa maulana Muhammadin
“adadama Fii’ilmillaahi shalaatan * Daaimatan bidadami mulkilahi

&

Werno limo wong rugi ing alam dunyo
Kanjeng nabi wus dawuhake marang kito
Werno sepisan wong kang ngeremahe ulama’
Agomone rugi ra ngerti aturan syara’

Kaping pindho wong kang ngeremehake umaro’
Bakal rugi urusan dunyo dunyo kapenthok-penthok
Ping telune wong kang ngeremehake tonggone
Bakale rugi rak oleh pitulungane

Kaping papate ngeremehake keluargane
Bakal rugi ra oleh pitulungane

Kaping papate ngeremehake keluargane
Bakal rugi ra oleh welas asihe
Ping limone sopo ngeremehake bojone
Rezeki mampet ati sumpek peteng ndedet

(3) Yup-Iyupan

Lagu *Gambang Suling*

Allahumma shalli wa-sallim ‘alaa * Sayyidina wa-maulana Muhammadin
Allahumma shalli wa-sallim ‘alaa * Sayyidina wa-maulana Muhammadin
‘Adadama fil ‘ilmillahi shalatan * Daaimatan bidawami mulkilahi
‘Adadama fil ‘ilmillahi shalatan * Daaimatan bidawami mulkilahi

&

Pitung werno manungso sing oleh ridhp * Anugerahe Gusti Allah ora liyo
Ing akhirat kayup iyup wit suwargo * Ora mlocot koyo wong kang akeh doso
Kaping sapisan poro pemimpin ingkang adil * kaping pindo wong nom-noman ora jahil
Kaping telune wong katsarian keono gusti * kaping papate arep maksiat nuli wedi
Kaping limo seneng shodaqoh kanthi lilo * kaping enem marang masjid ati kasengsem
Kaping pitu eling dosa eling mala * Nuli nangis koyo wong disikso
Mulo dulur ayo eling lan waspodo * Ojo ngasih urip sepisan disio-sio
Mulo dulur ayo ndang podho tumandang * Mumpung durung amal kito padha ditimbang

(4) Ojo Banget-Banget

Allaahumma shalli wa-sallim ‘alaa * Sayyidinaa wa-maulana Muhammadin
Allaahumma shalli wa-sallim ‘alaa * Sayyidinaa wa-maulana Muhammadin
Allahummag-shuril islaam wal-muslimin * Wa-ahlikil jaffarota wadh-dhaalimiin

&

Ojo siro banget-banget ono donyo * Malaikat ngawasake marang siro
Ojo siro tumindak dumeh kuwoso * Elinggo gusti Allah ikut pirso
Dulur ojo banget-banget ono dunyo * Malaikat ora tulu ora leno
Dulur ojo sak wenang-wenang kuwoso * Ayo eling kito kabeh bakal diprikso
Ojo siro gumede karepe dewe * Katekan Pathi sing mikul tonggo-tanggone
Ojo siro sumugih karo sing ringkih * Omah kubur wuruk lemah nggonmu mulih
Mulo dulur urup sapisan sing prayogo * Ojo nganti ngalor-ngidol nurut gudo
Mulo dulur uruppisan sigf waspodo * Ojo lali marang dawuhe agomo

(5) ELING ALAM KUBUR

Lagu: “Perahu Layar”

Allah Allah Allah Yaa Allah * Allah Allah Laa ilaaha illaklla

Allah Allah Allah Yaa Allah * Nabi Muhammad Rasuulullaah

&

Yo poro dulur beberangan * Ngirimi dungo Yasin lan tahlilan
Ben podho eling masa depan * Ing alam kubur kabeh tinimbalan

Kae Malaikat wes nunggu * Dar der dor siro rak iso mlayu
Mungkur karo Nakir ora tahu ngguyu * Ngowo godho gedene sak tugu
Aduh rasane mbok ndahneo larane * karepe mbengok ra ono rewange
Prayogene agomo ditenani * Dene sesok mati oleh welase gusti

(6) NGAKU-NGAKU UMAT NABI

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad
Yaa robbi shalli ‘alaihi wa-sallim
Allahumma shalli ‘alaa Muhammad
Yaa robbi shallii ‘alaihi wa-salliim

&

Gusti kanjeng Nabi Saestu kulo nelongso
Badan kulo sehat nanging ati kaloro-loro
Gusti kanjeng nabi saestu megiho kerso
Nyambangi kawulo lan ngusap eluh kulo

Gusti kanjeng nabi ingkang suci ingkang mulyo
Kawulo menikoh tansah dzalim lan durhoko
Gusti kanjeng nabi ingkang gati ingkang tresno
Namung panjenengan ingkang saget nulung kulo

Gusti kanjeng nabi saestu kawulo pun ngerti
Pundi halal pundi halal pundi wajib pundi larangan
Gusti kanjeng nabi nanging kulo manasati
Ngalor-ngidol tansah lali ngumbar dosa ora wedi

Gusti kanjeng nabi nasib kawulo kagos pundi
Ngaku umat nabi nanging sunnah ra ngakoni
Gusti kanjeng nabi saestu kulo akeni
Kulo mvoten pantes ngaku-ngaku umat nabi

(7) ISTIGHFAR

Astaghfirullaah robbal baroya * Astaghfirullah minal-khothooya
Astaghfirullaah robbal baroya * Astaghfirullah minal-khothooya

&

Yaa Allah Ya Rohman mohon ampun
Atas dosa-dosa seluas lautan
Yaa Allah Ya Rohim mohon pertobatan
Tobat yang sejati sepenuh harapan

Diri ini penuh dosa kekhilafan
Penuh kesombongan dan kemunafikan
Diri ini penuh nafsu keserakahan
Nafsu kemewahan nafsu kehormatan

Yaa Allah duh gusti Mohon ampun

Yaa Allah Ya Ghaffar ampunilah hamba
Orang tua hamba keluarga hamba
Yaa Allah Ya Hakim tunjukilah hamba
Jalan pertobatan jalan kesadaran

Diri ini lemah diri ini hina
Tak pantaslah hamba merasa kuasa
Diri ini papa dan peminta-minta
Tak pantaslah hamba oh merasa kaya

Ya Allah Duh Gusti Ampuni hamba

(8) WAHAI SAUDARAKU ISLAM

Shalatullah salamullaah * ‘Alaa thohaa rasuulillaah (Hu...hu)
Shalatullah salamullaah * ‘Alaa yaasiin habibillaah
Shalatullah salamullaah * ‘Alaa thoha rasuulillaah
Shalatullah salamullaah * ‘Alaa yaasiin habiibillah

&

Wahai saudaraku islam semua * ingat slalu pesan nabi kita
Ingatlah lima sebelum datangannya * lima perkara menimpa kita
Yang pertama masa muda * kau manfaatkan untuk apa
Ingatlah akan masa tua * penyesalah tiada guna

Yang kedua masa sehatmu * kau pergunakan untuk apa
Sebelum datang saat sakitmu * anggan-anggan tiada gunanya
Yang ketiga masa kayamu * akat infak dan shodakohmu
Jangan lupa itu kewajibanmu * sebelum datang saat miskinmu

Yang ketiga masa senggangmu * Jangan bermalas-malasan selalu
Sebelum datang masa sempitmu * engkau rugi terburu-buru
Yang terakhir masa hidupmu * ibadah dan amal sholehmu
Untuk bekal diakhiratmu * agar tak menyesal saat matimu

SYAIR BURDAH AL-BUSHIRI



MUKZIJAT NABI MUHAMMAD SAW

Pohon-pohon mendatangi seruannya dengan ketundukkan
Berjalan dengan batangnya dengan lurus dan sopan
Seakan batangnya torehkan sebuah tulisan
Tulisan yang indah di tengah-tengah jalan
Seperti juga awan gemawan yang mengikuti Nabi
Berjalan melindunginya dari sengatan panas siang hari
Aku bersumpah demi Allah pencipta rembulan
Sungguh hati Nabi bagai bulan dalam keterbelahan
Gua Tsur penuh kebaikan dan kemuliaan. Sebab Nabi
dan Abu Bakar di dalamnya, kaum kafir tak lihat mereka
Nabi dan Abu Bakar Shiddiq aman didalamnya tak cedera
Kaum kafir mengatakan tak seorang pun didalam gua
Mereka mengira merpati takkan berputar diatasnya
Dan laba laba takkan buat sarang jika Nabi didalamnya
Perlindungan Allah tak memerlukan berlapis baju besi
Juga tidak memerlukan benteng yang kokoh dan tinggi
Tiada satu pun menyakiti diriku, lalu kumohon bantuan Nabi
Niscaya kudapat pertolongannya tanpa sedikit pun disakiti
Tidaklah kucari kekayaan dunia akhirat dari kemurahannya
Melainkan kuperoleh sebaikbaik pemberiannya
Janganlah kau pungkiri wahyu yang diraihnya lewat mimpi
Karena hatinya tetap terjaga meski dua matanya tidur terlena
Demikian itu tatkala sampai masa kenabiannya
Karenanya tidaklah diingkari masa mengalami mimpinya
Maha suci Allah, wahyu tidaklah bisa dicari
Dan tidaklah seorang Nabi dalam berita gaibnya dicurigai
Kerap sentuhannya sembuhkan penyakit
Dan lepaskan orang yang berhajat dari temali kegilaan
Doanya menyuburkan tahun kekeringan dan kelaparan
Bagai titik putih di masa-masa hitam kelam
Dengan awan yang curahkan hujan berlimpah
Atau kau kira itu air yang mengalir dari laut atau lembah


KELAHIRAN SANG NABI MUHAMMAD SAW

Kelahiran Sang Nabi menunjukkan kesucian dirinya
Alangkah eloknya permulaan dan penghabisannya
Lahir saat bangsa Persia berfirasat dan merasa
Peringatan akan datangnya bencana dan angkara murka
Dimalam gulita singgasana kaisar Persia hancur terbelah
Sebagaimana kesatuan para sahabat kaisar yang terpecah
Karena kesedihan yang sangat, api sesembahan padam
Sungai Eufrat pun tak mengalir dari duka yang dalam
Penduduk negeri sawah bersedih saat kering danaunya
Pengambil air kembali dengan kecewa ketika dahaga
Seakan sejuknya air terdapat dalam jilatan api
Seakan panasnya api terdapat dalam air, karena sedih tak terperi
Para jin berteriak sedang cahaya terang memancar
Kebenaran pun tampak dari makna kitab suci maupun terujar
Mereka buta dan tuli hingga kabar gembira tak didengarkan
Datangnya peringatan pun tak mereka hiraukan
Setelah para dukun memberi tahu mereka
Agama mereka yang sesat takkan bertahan lama
Setelah mereka saksikan kilatan api yang jatuh dilangit
Seiring dengan runtuhnya semua berhala dimuka bumi
Hingga lenyap dan pintu langitNya
Satu demi satu syetan lari tunggang langgang tak berdaya
Mereka berlarian laksana lasykar Raja Abrahah
Atau bak pasukan yang dihujani kerikil oleh tangan Rasul
Batu yang Nabi lempar sesudah bertasbih digenggamannya
Bagaikan terlemparnya Nabi Yunus dan perut ikan paus.


PUJIAN KEPADA NABI SAW

Kutinggalkan sunnah Nabi yang sepanjang malam.
Beribadah hingga kedua kakinya bengkak dan keram.
Nabi yang karena lapar mengikat pusarnya dengan batu.
Dan dengan batu mengganjal Perutnya yang halus itu.
Kendati gunung emas menjulang menawarkan dirinya.
la tolak permintaan itu dengan perasaan bangga.
Butuh harta namun menolak, maka tambah kezuhudannya.
Kendati butuh pada harta tidaklah merusak kesuciannya.
Bagaimana mungkin Nabi butuh pada dunia.
Padahal tanpa dirinya dunia takkan pernah ada.
Muhammadlah pemimpin dunia akherat.
Pemimpin jin dan manusia, bangsa Arab dan non Arab.
Nabilah pengatur kebaikan pencegah mungkar.
Tak satu pun setegas ia dalam berkata ya atau tidak.
Dialah kekasih Allah yang syafa’atnya diharap.
Dari tiap ketakutan dan bahaya yang datang menyergap.
Dia mengajak kepada agama Allah yang lurus.
Mengikutinya berarti berpegang pada tali yang tak terputus.
Dia mengungguli para Nabi dalam budi dan rupa.
Tak sanggup mereka menyamai ilmu dan kemuliaannya.
Para Nabi semua meminta dari dirinya.
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.
Para Rasul sama berdiri di puncak mereka.
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.
Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya.
Terpilih sebagai kekasih Allah pencipta manusia.
Dalam kebaikanya, tak seorang pun menyaingi.
Inti keindahannya takkan bisa terbagi-bagi.
Jauhkan baginya yang dikatakan Nasrani pada Nabinya.
Tetapkan bagi Muhammad pujian apapun kau suka.
Nisbatkan kepadanya segala kemuliaan sekehendakmu.
Dan pada martabatnya segala keagungan yang kau mau.
Karena keutamaannya sungguh tak terbatas.
Hingga tak satupun mampu mengungkapkan dengan kata.
Jika mukjizatnya menyamai keagungan dirinya.
Niscaya hiduplah tulang belulang dengan disebut namanya.
Tak pernah ia uji kita dengan yang tak diterima akal.
Dari sangat cintanya, hingga tiada kita ragu dan bimbang.
Seluruh mahluk sulit memahami hakikat Nabi.
Dari dekat atau jauh, tak satu pun yang mengerti.
Bagaikan matahari yang tampak kecil dari kejauhan.
Padahal mata tak mampu melihatnya bila berdekatan.
Bagaimana seseorang dapat ketahui hakikat Sang Nabi
Padahal ia sudah puas bertemu dengannya dalam mimpi
Puncak Pengetahuan tentangnya ialah bahwa ia manusia
Dan ia adalah sebaik baik seluruh ciptaan Allah
Segala mukjizat para Rasul mulia sebelumnya
Hanyalah pancaran dari cahayanya kepada mereka
Dia matahari keutamaan dan para Nabi bintangnya
Bintang hanya pantulkan sinar mentari menerangi gulita
Alangkah mulia paras Nabi yang dihiasi pekerti
Yang memiliki keindahan dan bercirikan wajah berseri
Kemegahannya bak bunga, kemuliaannya bak purnama
Kedermawanannya bak lautan, kegairahannya bak sang waktu
la bagaikan dan memang tiada taranya dalam keagungan
Ketika berada di sekitar pembantunya dan di tengah pasukan
Bagai mutiara yang tersimpan dalam kerangnya
Dari kedua sumber, yaitu ucapan dan senyumannya
Tiada keharuman melebihi tanah yang mengubur jasadnya
Beruntung orang yang menghirup dan mencium tanahnya


Peringatan akan Bahaya Hawa Nafsu

Sungguh hawa nafsuku tetap bebal tak tersadarkan.
Sebab tak mau tahu peringatan uban dan kerentaan.
Tidak pula bersiap dengan amal baik untuk menjamu.
Sang uban yang bertamu di kepalaku tanpa malu-malu.
Jika kutahu ku tak menghormati uban yang bertamu.
Kan kusembunyikan dengan semir rahasia ketuaanku itu.
Siapakah yang mengembalikan nafsuku dari kesesatan.
Sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang.
Jangan kau tundukkan nafsumu dengan maksiat.
Sebab makanan justru perkuat nafsu si rakus pelahap.
Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu.
Bila kau sapih ia akan tinggalkan menyusu itu.
Maka kendalikan nafsumu, jangan biarkan ia berkuasa.
Jika kuasa ia akan membunuhmu dan membuatmu cela
Gembalakanlah ia, ia bagai ternak dalam amal budi.
Janganlah kau giring ke ladang yang ia sukai.
Kerap ia goda manusia dengan kelezatan yang mematikan.
Tanpa ia tahu racun justru ada dalam lezatnya makanan.
Kumohon ampunan Allah karena bicara tanpa berbuat.
Kusamakan itu dengan keturunan bagi orang mandul.
Kuperintahkan engkau suatu kebaikan yang tak kulakukan.
Tidak lurus diriku maka tak guna kusuruh kau lurus.
Aku tak berbekal untuk matiku dengan ibadah sunnah.
Tiada aku dan puasa kecuali hanya yang wajib saja.


Cinta Sang Kekasih

Apakah karena Mengingat Para kekasih di Dzi Salam.
Kau campurkan air mata di pipimu dengan darah.
Ataukah karena angin berhembus dari arah Kazhimah.
Dan kilat berkilau di lembah Idlam dalam gulita malam.
Mengapa bila kau tahan air matamu ia tetap basah.
Mengapa bila kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah.
Apakah sang kekasih kira bahwa tersembunyi cintanya.
Diantara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora.
Jika bukan karena cinta takkan kautangisi puing rumahnya.
Takkan kau bergadang untuk ingat pohon Ban dan ‘Alam.
Dapatkah kau pungkiri cinta, sedang air mata dan derita.
Telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta.
Kesedihanmu timbulkan dua garis tangis dan kurus lemah.
Bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah.
Memang terlintas dirinya dalam mimpi hingga kuterjaga.
Tak hentinya cinta merindangi kenikmatan dengan derita.
Maafku untukmu wahai para pencaci gelora cintaku.
Seandainya kau bersikap adil takkan kau cela aku.
Kini kau tahu keadaanku, pendusta pun tahu rahasiaku.
Padahal tidakjuga kunjung sembuh penyakitku.
Begitu tulus nasihatmu tapi tak kudengar semuanya.
Karena untuk para pencaci, sang pecinta tuli telinganya.
Aku kira ubanku pun turut mencelaku.
Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku.

HIKMAH RAMADHAN



Puasa Mengendalikan Gejolak Hawa Nafsu
Oleh: Ali Mahmudi *)

Manusia di tinjau dari segi asal fundamentalnya merupakan perpaduan antara jasad dan ruh. Ruh merupakan komponen yang fitrah, ruh inilah yang menarik manusia menuju asal dan sumbernya yang fitri. Dia juga mempunyai tugas untuk selalu mengingatkan manusia kepada kedudukan, pusat amanat, dan sasaran ibadah. Dialah yang membukakan jendela bathin yang suci untuk dapat melihat keindahan dan kelapangan Alam surgawi. Ruh juga memberikan ilham kepada manusia untuk memberontak melawan keburukan, kemungkaran, dankonsepsi hidup yang matrealistis, di samping untuk lepas tinggi melayang di luar angkasa bebas yang tak ada batasnya dengan menghancurkan pintu sangkar emas tempat ia di penjarakan.

Selain itu, ruh juga mengatur mausia untuk memanajemen waktu beberapa jam dari hidupnya untuk menjauhi kegiatan rutin yang monoton. Seperti makan, minum, dan lain-lain, serta mencari ketentraman berasaskan motivasi hidup lainnya. Sekalipun hanya satu kali dalam setahun. Ruh juga mengajak manusia untuk merasakan kenikmatan spiritual, seperti lapar dan haus, sehingga ia tidak mempunyai selera, sekalipun terhadap makanan yang lezat dan minuman yang segar.

Secara ringkas, ruh telah mampu berperan sebagai pengendali, penyeimbang, dan pengekang giliran kerja manusia demi mengabdi kepada kepuasan hati dan ketenangan serta kebebasan hawa nafsu. Semuanya itu merupakan sebuah nilai hidup yang sangat berharga atas kebahagiaan yang tak ternilai dan sebagai realisasi diri.

Sebaliknya yang perlu di waspadai bagi umat manusia, adalah apabila kendali ruh menjadi lemah dan manusia lepas dari kontrol kendalinya, maka ia akan terbuai dengan kehangatan penuh hawa nafsu dan kelezatan. Sikap hendonisme dan menuruti kehendak diri merupakan semboyan hidupnya, dam kejujuran di tujukan kepada penciptaan berbagai jalan dan cara untuk memuaskan kecenderungan-kecenderungan jasmaniah yang bertentangan dengan seluruh aspek kaidah hukum, kesehatan, moral, dan agama.

Maka dengan seluruh properti kemajuan, boleh jadi akan selalu merasa bangga. Kelas tinggi dengan kadar kebutuhan ekonomi yang berada di atas standar kehidupannya, merupakan visi dan misi hidupnya. Hari-hari hidupnya di penuhi dengan aktivitas di meja makan dan toilet. Seluruh semangatnya hilang, kecuali semangat nafsu kebinatangannya. Ini seperti yang di gambarkan dalam Al-Qur’an surat Muhammad ayat:12 yaitu:
“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad:12). Itulah tabiat jasad jasmani yang terlepas dari bimbingan rohaniyah, ia dengan mudah akan di pengaruhi oleh hawa nafsu dan dorongan jasmaniyah.

Kendati begitu, maka di dalam islam mensyari’atkan wajibnya berpuasa selama sebulan penuh pada bulan Ramadhan dalam setahun sekali. Menurut pendapat seorang hujjatul islam, imam Al-Ghazali mengatakan bahwa tujuan puasa adalah agar manusia berakhlak dengan akhlak Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Agung, yaitu ketergantungan segala sesuatu kepada-Nya, dan sebisa mungkin mencontoh para malaikat di dalam menahan hawa nafsu. Karena mereka (para malaikat) itu merupakan makhluk yang di sucikan dari hawa nafsu.

Tingkatan derajat manusia berada di atas derajat binatang (darajatul bahaim), dan di bawah dari tingkatan derajat para malaikat, karena manusia di bekali akal pikiran sekaligus hawa nafsu yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Namun, ketika manusia telah mampu mengalahkan hawa nafsunya, dan cenderung menuju kebaikan yang hakiki, berarti sekarang dia telah menempati posisi derajat yang lebih tinggi di atas derajatnya malaikat.

Tujuan puasa adalah membebaskan ruh manusia dari cengkeraman hawa nafsu yang menguasai jasmaninya menuju sasaran persucian dan kebahagiaan yang abadi. Selain bermanfaat dalam faktor psikologi, puasa juga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, yang mampu memberikan perlindungan terhadap anggota badan bagian luar maupun bagian dalam tubuh, dan juga mencegah kerusakan-kerusakan yang di timbulkan oleh timbunan materi yang membusuk, mengusir racun-racun bakteri (toksin) yang mampu merusak bagian dalam tubuh.

Sejarah keagamaan dan etika, pada kenyataannya merupakan suatu byangan peperangan antara jasad dan ruh. Apabila moral dan tabiat manusia yang emosional terpengaruh, maka ia akan meletakkan dasar-dasar kehidupan sebagai seorang pertapa, ia akan berpakaian buruk dan kotor. Dan mulailah ia mendapatkan kesenangan luar biasa dengan kebiasaan menahan diri dari lapar serta dahaga dan menebus dosa-dosa yang pernah di buatnya.

Penulis Staf peneliti pada Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) PPM Hasyim Asy’ari Cabeyan, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Rabu, 11 November 2009

Mengungkap Rahasia Al-Qur'an


MEMAHAMI RAHASIA AL-QURAN

AI-Quran, Sebuah Kitab Universal

Al-Quran tidak mengkhususkan pembicaraannya kepada bangsa tertentu, seperti bangsa Arab, dan kelompok tertentu, seperti kaum Muslimin. Tetapi ia berbicara kepada bukan Muslim amaupun Muslim (bukti untuk hal ini adalah banyak titah dan hujah dalam banyak ayat Al-Quran, sehingga tak perlu lagi kami kutipkan di sini), termasuk orang-orang kafir, musyrik, Ahlul Kitab, Yahudi, Bani Israil dan Nasrani. AI-Quran menghujah setiap kelompok ini dan mengajak mereka untuk menenma ajaran-jarannya yang benar.

AI-Quran juga menyeru setiap kelompok ini melalui hujah-hujah dan penalaran. Ia tidak pernah mengkhususkan pembicaraannya kepada bangsa Arab saja. Mengenai para penyembah ber­hala, ia berkata:

"Apabila mereka bertobat, mendirikan salat dan membayar­kan zakat, maka mereka menjadi saudaramu dalam agama." (QS 9:11)

Dan mengenai Ahlul Kitab,1) ia berkata:

"Katakanlah: 'Wahai Ahlul Kitab, marilah menuju kepada keputusan yang sama antara kami dan kamu. Hendaklah kita tidak menyembah kecuali Allah, tidak menyekutukan-Nya, dan sebagi­an kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. “ (QS 3:64)

Kita melihat bahwa Al-Quran tidak berbicara dengan kata­kata "apabila orang-orang musyrik Arab bertobat" atau "wahai Ahlul Kitab Arab." Memang, dalam permulaan Islam - ketika dakwah Islam belum tersebar dan keluar dari wilayah Jazirah Arab - pembicaraan-pembicaraan Al-Quran ditujukan kepada bangsa Arab. Namun, sejak tahun keenam Hijrah, setelah dakwah Islam tersebar sampai di luar Jazirah Arab, tidak ada lagi alasan untuk pengkhususan. Di samping ayat-ayat tadi, ada ayat-ayat lain yang menunjukkan universalitas dakwah Islam, seperti firman Allah:

“Al-Quran ini diwahyukan kepadaku agar dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang Al-Quran sampai kepadanya." (QS 6:19)

“Al-Quran iiu tiada lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam (bangsa)." (QS 68:52)

"Sesungguhnya Al-Quran itu adalah peringatan bagi seluruh alam (bangsa)." (QS. 38:87)

"Sesungguhnya ia (neraka) adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. " (QS 74:35-36)

Dari kenyataan-kenyataan sejarah kita mengetahui banyak penyembah berhala, orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang dari bangsa-bangsa non-Arab yang memenuhi panggilan Islam, seperti Salman dari Persia, Sahib dari Romawi, Bilal dari Ethiopia dan lain-lain.